NaPaS BiDaDaRi

SaYa HaNYaLaH SeoRaNG BiDaDaRi YaNG iNGiN MeMBeRi NaPaS PaDa SeTiaP KeHiDuPaN...BuKaN HaNYa SeKeDaR MiSTeRi...TaPi KePaKaN SaYaPKu BeNaR aKaN MeMBaWaMu TeRBaNG LeBiH TiNGGi...

Foto Saya
Nama:
Lokasi: Jakarta, DKi JaKaRTa, Indonesia

SaYa HaNYaLaH SeoRaNG BiDaDaRi YaNG iNGiN MeMBeRi NaPaS PaDa SeTiaP KeHiDuPaN...BuKaN HaNYa SeKeDaR MiSTeRi...TaPi KePaKaN SaYaPKu BeNaR aKaN MeMBaWaMu TeRBaNG LeBiH TiNGGi...

Kamis, 27 November 2008

Kisah Cinta Seekor Kupu-Kupu

Cerita Pembangkit Inspirasi -- Unknow Writer

Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang pria dan wanita yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia.

Namun pada suatu hari, sang pria mengalami luka parah akibat sebuah kecelakaan tragis. Ia terbaring di atas ranjang rumah sakit beberapa malam tidak sadarkan diri. Siang hari sang wanita menangis tersedu, terduduk di depan ranjang kekasihnya dan dengan tiada henti memanggil-manggil kekasihnya yang tak kunjung sadar.

Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya bisa sembuh dan selamat seperti sedia kala. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang waktu. Waktu demi waktu berlalu, sang pria masih tetap tak sadarkan diri, sedangkan si wanita tetap dalam kesedihannya yang luar biasa, namun ia tetap dengan susah payah bertahan. Hingga pada akhirnya di suatu hari, Tuhan terharu oleh keadaan wanita yg setia dan teguh itu.
Tuhan memutuskan memberikan wanita itu sebuah pengecualian, malam hari pada sebuah percakapan di dalam doa Tuhan bertanya kepadanya “Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu untuk menukar dengan kesembuhan kekasihmu?” Si wanita tanpa ragu sedikitpun menjawab “Ya”. Tuhan berkata “Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?”. Si wanita terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti ia menjawab “saya bersedia!”.

Hari telah terang. Si wanita telah menjadi seekor kupu-kupu yang sangat indah. Ia mohon diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Ia sangat berbahagia karena melihat kekasihnya benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorang dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke kamar sang kekasih karena ruang itu di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya yang sangat ia cintai, dan berharap ia menoleh untuk melihat seekor kupu-kupu yang sedang menatapnya, berbahagia dengan keadaannya. Beberapa hari kemudian, sang pria telah sembuh total. Namun ia sama sekali tidak berbahagia. Ia mencari-cari keberadaan sang wanita pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu keberadaan sang wanita. Wajahnya terlihat murung, dan ia menitikkan air mata, sang pria menganggap kekasihnya sudah meninggalkannya dan melupakannya. Namun, ia masih belum menyerah, sepanjang hari ia tidak makan dan tidak beristirahat, ia terus mencari kekasihnya yang sangat ia cintai.. Ia begitu rindu kepadanya, ia bertanya pada setiap orang yang lewat, ia memegang foto kekasihnya dan terus bertanya sepanjang hari, waktu demi waktu berlalu hingga ia merasa sudah waktunya ia menghentikan semuanya.

Sang kupu-kupu masih disana melihatnya setiap hari menghabiskan waktu mencari dirinya yang kini berwujud kupu-kupu. Ingin sekali rasanya ia berteriak, berlari dan memeluknya dan mengatakan betapa ia mencintainya…betapa ia merindukannya…sang kupu-kupu rasakan hatinya pedih…perih..menangis sejadinya dan nyatanya ia merasakan keadaan ini lebih menyakitkan. Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Sang kupu-kupu masih terus menemui kekasihnya, dan selama itu pula ia merasa tersiksa. Terkadang ia merintih di ujung taman kota, dan ingin sekali agar Tuhan kembali mengubahnya menjadi manusia.

Musim kembali berganti, sang kupu-kupu tetap dalam kesendiriannya, Ia pergi ketempat kekasihnya tinggal dan hinggap di atas bahunya. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil membelai halus wajahn kekasihnya, menggunakan mulutnya yang mungil mencium lembut keningnya. Terselinap dalam hati sang kupu-kupu bahwa ia bersyukur menjadi seekor kupu-kupu yang selalu dapat terbang dan melihat kekasihnya kapanpun ia mau, menemani kesendiriannya, dan menghias lebut pemandangan kekasihnya dengan sayapnya yang indah. Musim kembali berganti, pada suatu hari ia terbang dengan riang berharap dapat kembali menemani kekasihnya, namun seketika ia tersentak kaget ketika melihat kekasihnya sedang duduk di taman kota bersama seorang gadis yang cantik. Hatinya merasa gusar dan gelisah ketika kecurigaannya benar, bahwa gadis itu adalah kekasih kekasihnya.Hatinya kembali sakit, ia menangis tersedu, hatinya terasa hancur dan impiannya pun terkoyak…

Sang kupu-kupu sangat sedih tak terperi ketika beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, dan menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yg pernah di milikinya dahulu dilakukan tanpa dirinya, dan dilakukan kekasihnya oleh wanita lain… Musim panas tahun ini terasa sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya. Bisikan suara antara kekasihnya dengan wanita itu, suara gelak tawanya, untaian senyum yang terukir diwajah mereka, sudah cukup membuat hembusan napas dirinya kian berat,
oleh karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini adalah kehampaan dalam dirinya.

Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu sudah tidak sering lagi pergi
mengunjungi kekasihnya. Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu akan segera berakhir dan pada saat hari yg terakhir perjanjiannya, sang pria kekasihnya sedang melangsungkan pernikahan dengan wanitanya di sebuah kapel di kota. Di dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang, sanak saudara, dan kerabat. Sang kupu-kupu terbang masuk kedalam kapel dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan “saya bersedia menikah dengannya!”. Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sang kupu-kupu mengalir membasahi pelipis patung Tuhan. Dengan pedih hati Tuhan menarik napas “Apakah kamu menyesal?”. Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya terdiam. Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan “Besok kamu sudah kembali menjadi manusia”. Sang kupu2 menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata “Tuhan, biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidupku”. Mungkin pada saat itu Tuhan tersenyum damai dengan jawaban sang kupu-kupu yang ingin menjadi kupu-kupu selamanya. Ia akan dengan bebas menghibur dirinya terbang mengunjungi dan melihat kekasihnya meskipun kekasihnya kini sudah bukan miliknya. Ia berdamai dengan keadaannya yang diputuskan Tuhan untuknya. Seandainya pun ia tetap menjadi manusia, ia mendapatkan begitu banyak pelajaran baru yang berharga dalam hidupya.

Bahwa ada beberapa kehilangan merupakan takdir yang telah ditetapkan Tuhan, mencintai seseorang memang tidak selamanya harus memiliki, tapi pengorbanan yang dilakukan dalam cinta adalah bentuk kesempurnaan cinta itu sendiri. Bagi mereka yang kini sudah terlengkapi hatinya, bersyukurlah atas cinta yang kalian miliki dengan saling menjaga keindahan itu hingga kalian wafat, jagalah keindahan dan kedamaian itu hingga kalian merasa bahwa Tuhan yang maha baik akan terus berikan kalian yang terbaik di dalam hidup kalian yang baik.

Label:

Rabu, 26 November 2008

Cinta Dan Pernikahan

Kisah Plato dan Sepotong Gandum -- Unknow Writer

Suatu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya menemukannya?

Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan rantingyang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta".

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"

Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)". Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya"

Gurunya kemudian menjawab "Jadi ya itulah cinta"

Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"

Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan saja. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"

Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.

Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"

Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"

Gurunya pun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"

Label:

Selasa, 25 November 2008

Jangan Menyalahkan Cinta

jika ada sebua bangku sekolah
yang mengajarkan tentang hakikat cinta
maka aku mohon daftarkan aku segera
agar aku bisa mencintai dengan sempurna
tanpa ada irisan-irisan nafsu sela hati

jika cinta diajarkan dengan sebuah mistik
maka aku harus berapa hari untuk melakukan tapa
atau berapa abad bagiku menjalani semedi
agar aku bisa mengupas sebuah cinta
dan menyajikan hidangan cinta bagi yang aku sayangi

jika cinta adalah sesuatu yang suci
ajarkan diriku untuk mengambil kemurniannya
lalu aku balurkan pada tubuhku yang hina
agar nafsu liarku segera sirna tanpa sisa

-----rr_kabalmay wrote :-------------

Kepada Siapa Cinta Bicara

Kepada kau yang pernah mencinta

Kepada kau yang pernah dicinta

Kepada siapa saja yang pernah membawa, menikmati, hanyut, terombang-ambing, terhempas, terdampar dan bahkan larut tak bersisa menyatu dalam Cinta

Kepada bidadari, kepada angin, kepadabulan, kepada matahari, kepada gemintang, kepada awan, kepada hujan, kepadalaut, kepada batu karang, kepada pantai, kepada nyiur, kepada semesta dan alam raya

Kepada peristiwa yang pernah hadir dalam hidupku yang belum sempat kunamai

Kepada yang kucintai, kepada yang mencintaiku, kepada yang mengajariku dan aku belajar makna Cinta darinya

Kepada kalian kutuliskan kata sakti ini

Cinta, Cinta, Cinta dan Cinta….

Datangnya bisa tiba-tiba

Pun dapat tumbuh perlahan

Karena benihnya bersemayam di hatimu

Cinta…

Rumit bila kau memaksa mencintai dengan sedehana

Sederhana bila kau merasa sudah cukup dengannya

Bahagia jika sesuai kehendakmu

Sakit jika tak sejalan dengan yang kau mau

Cinta…

Rasa yang teramat sulit diartikan

Bahagia, ngeri dan nyeri yang tak terperi menyatu membungkusmu

Maka tak perlu bertanya, resapi saja…

Tuturkan, jangan kau umbar

Berikan, jangan mengharap kembali

Cinta…

Sungguh arasnya tak terjangkau

Percintaan dan pernikahan sejatinya hanya upaya untuk menafsirkan

Luas, sempit, dalam, dangkal adalah pemaknaan semu tentangnya

Karena Cinta sudah cukup untuk Cinta

Bila cinta menjelma bahagia, berbalut derita, berbunga kasmaran, membuatmu gila, mencengkerammu, mencekikmu, membekapmu, membelaimu, menggantangmu, mengurapimu bahkan membunuhmu sekalipun…

Maka jangan pernah bertanya, kenapa?

Yogyakarta, 5 Januari 2008

Rofiko Rahayu Kabalmay

Terinspirasi dari kata-kata bijak Imam Ali bin Abi Thalib (semoga Allah memuliakan wajahmu ya Amirul Mukminin).
"Jika kau mencintai sesuatu, cintailah sewajarnya saja karena kau tidak akan pernah tahu kapan kau membencinya, dan jika kau membenci sesuatu, bencilah sewajarnya saja karena kau pun tidak akan pernah tahu kapan cinta itu kembali."


----- Original Message ----
From: Hapsari Wirastuti Susetianingtyas <hapsari.ws@gmail.com>
Sent: Friday, January 4, 2008 11:22:16 AM
Subject: Jangan Menyalahkan Cinta

Cinta adalah suatu perasaan yang indah bagi yang mengalaminya. Cinta bukan sesuatu yang menyakitkan. Tapi cinta itu mengobati jiwa. Bagi sebagian orang cinta hanya dianggap suatu fase kehidupan yang semua orang akan mengalaminya tanpa berfikir mengenai maknanya. Sehingga dalam perjalanannya cinta hanyalah cerita. Bagi sebagian lainnya cinta itu pengorbanan untuk mendapatkannya. Berkorban waktu, berkorban uang bahkan berkorban kebebasan. Hanya berkorban tanpa menentang. Sebagian lainnya menganggap cinta itu adalah perjuangan. Perjuangan untuk mendapatkan hatinya, perjuangan untuk meyakinkan bahwa kitalah yang pantas mendampinginya, bahkan perjuangan untuk menjadikannya pasangan seumur hidup kita.

Cinta seperti apa yang kamu punya?

Cinta itu tidak untuk dinodai, tidak untuk diduakan walau hanya dalam hati semata dan tidak untuk menyakiti diri sendiri. Cinta bukan untuk ditangisi, bukan untuk bersedih dan bukan untuk disesali. Cinta itu bukan kebohongan dan bukan untuk didustai. Cinta itu bukan keterpaksaan. Cinta itu bukan sesuatu yang harus disesali karena cinta itu memilih dan dipilih. Cinta adalah perjuangan untuk menunjukkan kesungguhan dan keikhlasan bukan hanya sekedar menunggu dan menyakiti diri sendiri.

Hmm...Semua yang menjadi pilihan cinta kita, seperti apakah cinta yang kita punyai sekarang, JANGAN pernah MENYALAHKAN mengapa cinta itu terpilih. Cinta terpilih bukan karena SIAPAPUN dan APAPUN. Cinta itu TIDAK untuk MENYAKITI maupun MENDZOLIMI tetapi untuk mendapatkan ridho Allah.

Terinspirasi dari makna kisah plato dan sepotong gandum : Pilihlah cinta dan jangan menengok ke belakang lagi walaupun cinta yang dipilih bukan yang terbaik

--
Regards,
Hapsari Wirastuti Susetianingtyas

Label:

Senin, 13 Agustus 2007

aWaL DaRi SeBuaH TiTiK -NoL-

aWaL DaRi SeBuaH TiTiK -NoL-

TiTiK aWaL KeHiDuPaNKu

SaaT MiMPi JaDi KeNYaTaaN

SaaT TaNGaN BiSa MeNGGeNGGaM CiTa

SaaT TaKDiR BeRKaTa "Ya, SeKaRaNG GiLiRaNMu"

SaaT aKu HaRus MeMuTaR KeMBaLi KeHiDuPaN

Di TiTiK -NoL-

Label: